Amerika Serikat dan Rusia, 2 negara bagai kucing dan tikus

Oleh: St. Aisyah Fairuz

Amerika Serikat dan Rusia menjadi negara yang memang diketahui selalu mempunyai hubungan yang tidak baik setelah Perang Dingin pada tahun 1991. Perang Dingin yang menyebabkan Uni Soviet terpecah menjadi beberapa negara dan Rusia menjadi negara terbesar dari pecahnya Uni Soviet ini. Terpecahnya Uni Soviet ini yang membuat Amerika Serikat menjadi negara yang mempunyai kekuatan terbesar pada saat itu. Setelah itu, kedua negara ini selalu berselisih apalagi mengenai masalah politik, ideologi dan militer.

Ada 4 hal yang harus difokuskan dalam hubungan antara kedua negara ini yaitu mengenai keamanan nuklir, bagaimana hubungan kedua negara ini terjalin pada saat pengembangan opsi tenaga nuklir sipil, kontrol senjata dan pengelolaan dunia nuklir multipolar. Selanjutnya adalah keamanan energi. Yang ketiga  adalah Moskow dan Washington yang menghadapi permasalahan atas kedua negara ini dan yang terakhir ialah keamanan Eropa.

Beberapa bulan ini, muncul lagi permasalahan antar kedua negara ini. Bermula dari Moskow yang mengimrimkan ribuan pasukan ke Ukraina yang mereka bilang hanya melakukan invansi. Pengiriman pasukan ini menyebabkan kekhawatiran Eropa akan terjadinya perang. Presiden Amerika serikat, Biden memberikan ancaman kepada Rusia jika mereka ingin menyerang Ukraina. Akan tetapi Rusia mengatakan bahwa mereka memiliki hak untuk mengirimkan pasukan ke negara sendiri apabila diperlukan dan membantah mengenai mereka akan menyerang Ukraina.

 Semakin menimbulkan ketegangan, Rusia dianggap sudah bersiap untuk menyerang Ukraina. Maka dari itu, Amerika serikat bakal melapor ke dewan keamanan PBB meminta tanggapan mengenai kasus ketegangan yang diakibatkan oleh Rusia ini. Mengenai hal ini, PBB masih diam dan dari 13 anggota Dewan Keamanan belum ada yang mengajukan pertemuan mengenai kasus ini.

Pada dasarnya bahwa perang atau ketegangan merupakan hal yang tidak bisa dihindari dalam hubungan internasional. Masalah mengenai Rusia yang menganggap dirinya berhak untuk mengirim pasukan karna Ukraina masih terbilang sebagai wilayah mereka dan Amerika Serikat dan wilayah Eropa lain merasa terancam mengenai pengiriman pasukan berjumlah banyak ke satu wilayah yang memang sudah dicurigai bakal menimbulkan perang.

Sudah dijelaskan bagaimana AS menanggapi bahwa sewaktu-waktu Rusia bakal menyerang Ukraina an tentu saja Amerika Serikat bakal bersikap tegas mengenai hal itu. Walau Rusia bersikeras  bahwa mereka tidak akan menyerang Ukraina tetap saja Amerika Serikat tidak mempercayai Rusia.

Reference:

Vinod K. Aggarwal and Kristi Govella, Responding to a resurgent Russia, Springer, 2011

Celeste Wallender, Russia-US relations in the post cold war world, Ponars Policy Memo, 1999

Ahmad Islamy (2021), Putin Ingatkan Biden: hubungan AS dan Rusia bisa putus jika, diakses pada tanggal 18 Januari 2022 di https://www.inews.id/news/internasional/putin-ingatkan-biden-hubungan-as-dan-rusia-bisa-putus-jika/2

Konflik Ukraina-Rusia lanjut ke diskusi serius Biden-Putin, CNN Indonesia, diakses pada tanggal 18 Januari 2022 di https://www.cnnindonesia.com/internasional/20211231101305-134-740922/konflik-ukraina-rusia-lanjut-ke-diskusi-serius-biden-putin

Rusia peringatkan AS dan NATO, bakal menghancurkan ancaman yang tak dapat diterima, diakses pada tanggal 18 Januari 2022 di https://www.kompas.tv/article/247391/rusia-peringatkan-as-dan-nato-bakal-hancurkan-ancaman-yang-tak-dapat-diterima

Tegang dengan Rusia, AS siap diajukan permasalahan ke Dewan Keamanan PBB, diakses pada tanggal 18 Desember 2022 di https://indonesiatoday.co.id/read/tegang-dengan-rusia-as-siap-diajukan-permasalahan-ke-dewan-keamanan-pbb-304548

 

 

 

 

 

Komentar